ANAK DAN PROSES PEMEROLEHAN BAHASANYA

 Beberapa ahli pendidikan anak mempunyai definisi dan konsep masing tentang anak dan bagaimana ia berkembang. Pestalozzi berpandanganbahwaanak pada dasarnyamemiliki pembawaanyang baik. Pertumbuhan danperkembangan yang  terjadi  pada  anak  berlangsung secarabertahapdanberkesinambungan.Sejalan dengan itu, Rousseaumemiliki keyakinan bahwaseorang ibudapat menjaminpendidikananaknya  secaraalamiah.Ia  berprinsipbahwa dalammendidikanak, orang tuaperlumemberikebebasanpadaanak agar merekadapatberkembangsecara alamiah. Froebel juga mempunyai pemikiran yang tidak berbeda, ia memandang anaksebagaiindividu yang pada kodratnya bersifat baik. Sifat yang buruk timbul karena kurangnyapendidikanataupengertian yang dimilikioleh anak tersebut. Jadi anak merupakan individu yang mempunyai kecenderungan berkembang menjadi baik, sehingga pendidikan harus memberikan intervensi yang tepat sesuai kodratnya

 Seorang dokter dan ahli tentang pendidikan anak yang berasal dari Italia, Maria Montessori mempunyai pandangantentang anak yang tidakterlepas dari pengaruh pemikiranahli yang lain yaitu Rousseau dan Pestalozzi yang menekankan pada pentingnya kondisi lingkungan yang bebas dan penuhkasihagarpotensiyangdimilikianakdapatberkembangsecara optimal. Montessori meyakini bahwa ketika dilahirkan, anak secara bawaan sudah memiliki pola perkembangan psikis atau jiwa. Pola ini tidak dapat teramati sejak lahir. Tetapi sejalan dengan proses perkembangan yang dilaluinya maka akan dapat teramati. Anak memiliki motif atau dorongan yang kuat ke arah pembentukan jiwanya sendiri (self construction) sehingga secara spontan akan berusaha untuk membentuk dirinya melalui pemahaman terhadap lingkungannya.  Montessori menyatakan bahwa dalam perkembangan anak terdapat masa peka, suatu masa yang ditandai dengan begitu tertariknya anak terhadap suatu objek atau karakteristik tertentu serta cenderung mengabaikan objek yang lainnya. Pada masa tersebut anak memiliki kebutuhan dalam jiwanya yang secara spontan meminta kepuasan.

 Pandangan tentang pendidikan anak dari paham konstruktivisme dimotori olehduaorang ahli psikilogiyaituJean PiagetdanLev Vigotsky.Pada dasarnya pahamkonstruktivisini mempunyai asumsibahwaanak adalah pembangun pengetahuan yang aktif.Anak mengkonstruksi / membangun pengetahuannyaberdasarkanpengalamannya. Menurut pahaminianakbukanlahindividuyang bersifat pasif, yang hanyamenerimapengetahuannyadari oranglain.Anak adalah makhlukbelajaryangaktifyangdapat mengkreasi/menciptadan membangunpengetahuannyasendiri.

 Menurut Hurlock (1980), secara umum, manusia berkembang melalui beberapa tahapan yang berlangsung secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu dan bias berlaku umum. Untuk lebih jelasnya tahapan perkembangan tersebut dapat dilihat pada uraian tersebut: Masa pra-lahir: Dimulahi sejak terjadinya konsepsi lahir. Masa jabang bayi: satu hari sampai dua minggu.Masa Bayi: dua minggu sampai satu tahun. Masa anak:  masa anak-anak awal : 1 tahun-6 bulan, Anak-anak akhir: 6 tahun-12/13 tahun. Masa remaja : 12/13 tahun sampai 21 tahun. Masa dewasa: 21 tahun sampai 40 tahun. Masa tengah baya: 40 tahun sampai 60 tahun. Masa tua: 60 tahun sampai meninggal. Berdasarkan pemahaman itu, Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas).

 B.     Bagaimana Anak Berkembang Dan Belajar?

   Para psikologi perkembangan menyadari bahwa gambaran pola perkembangan yang tepat merupakan dasar untuk memahami anak-anak. Mereka juga mengetahui bahwa diperlukan pengetahuan tentang apa yang menyebabkan adanya variasi dalam perkembangan untuk memahami setiap anak secara pribadi.

 Untuk mengetahui bagaimana bentuk pola perkembangan anak, maka ada 10 prinsip-prinsip perkembangan yang akan digunakan sebagai acuan dalam mengetahui perkembangan anak.

 1.     Prinsip pertama: Perkembangan Menyangkut Perubahan. Tujuan perkembangan tersebut adalah realisasi diri atau pencapaian kemampuaan bawaan. Sikap anak terhadap perubahan dipengaruhi oleh kesadarannya akan perubahan tersebut, bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku anak, sikap sosial terhadap perubahan ini, bagaimana mereka mempengaruhi penampilan anak, dan bagaimana kelompok social bereaksi terhadap anak ketika perubahan ini terjadi.

 2.      Prinsip kedua perkembangan adalah bahwa perkembangan awal lebih penting daripada perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman. Apabila perkembangan membahayakan penyesuaian pribadi dan social anak, ia dapat diubah sebelum menjadi pola kebiasaan.

 3.      Prinsip ketiga perkembangan menekankan kenyataan bahwa perkembangan timbul dari interaksi kematangan dan belajar dengan kematangan yang menetapkan batas perkembangan batas bagi perkembangan.

 4.      Prinsip keempat adalah bahwa pola perkembangan dapat diramalkan, walaupun pola yang dapat diramalkan ini dapat diperlambat atau dipercepat oleh kondisi lingkungan dimasa pralahir dan pascalahir.

 5.      Prinsip kelima perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang dapat diramalkan. Yang terpenting diantaranya ialah adanya persamaan pola perkembangan bagi semua anak. Perkembangan berlangsung dari tanggapan umum ke tanggapan spesifik, perkembangan tersebut terjadi secara berkesinambungan berbagai bidang berkembang dengan kecepatan yang berbeda dan terdapat korelasi dalam perkembangan.

 6.      Prinsip keenam bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan yang sebagian karena pengaruh bawaan dan sebagian karena kondisi lingkungan. Ini berlaku baik dalam perkembangan fisik maupun psikologis. Kepentingan praktis untuk mengetahui bahwa terdapat perbedaan individu dalam perkembangan adalah bahwa ia menekankan pentingnya melatih anak sesuai dengan kbutuhannya dan tidak mengharapkan perilaku yang sama pada semua anak.

 7.      Prinsip ketujuh perkembangan adalah bahwa terdapat periode dalam pola perkembangan yang disebut pola pralahir, masa neonatus, masa bayi, masa kanak-kanak awal, akhir masa kanak-kanak dan masa puber. Dalam semua periode ini terdapat saat-saat keseimbangan dan ketidakseimbangan serta pola perilaku yang normal dan yang terbawa dari periode sebelumnya.

 8.      Prinsip kedelapan perkembangan adalah adanya harapan sosial untuk setiap periode perkembangan. Harapan sosial ini berbentuk tugas perkembangan yang memungkinkan para orang tua dan guru mengetahui pada usia berapa anak-anak mampu menguasai berbagai pola perilaku yang diperlukan bagi penyesuaian yang baik.

 9.      Prinsip kesembilan perkembangan adalah bahwa setiap bidang perkembangan mengandung kemungkinana bahaya baik fisik maupun psikologis yangn dapat mengubah pola perkembangan.

 10.  Prinsip kesepuluh perkembangan adalah bahwa kebahagiaan bervariasi pada berbagai periode dalam pola perkembangan. Tahun pertama kehidupan biasanya yang paling dan masa puber biasanya yang paling tidak bahagia.

Dalam menuju proses perkembangannya anak melaluinya secara alamiah dalam kehidupan sehari, dunia anak adalah dunia bermain, sehingga pola pengembangan menuju kematangannya secara alamiah adalah dengan cara bermain. Bermain merupakan konsep yang tidak mudah untuk dijabarkan. Mungkin, mayoritas orang, seringkali mendengar kata-kata bermain. Bahkan mereka seringkali melakukan permainan. Namun, seringkali orang belum mampu memberikan definisi bermain. Para ahli, mendefinisikan konsep bermain berbeda-beda menurut perspektif masing-masing. Berikut ini adalah beberapa definisi bermain menurut sebagian kecil para ahli.para ahli.

1.         Menurut Piaget, 1951 bermain merupakan kegiatan yang dilakukan berulang-ulang demi kesenangan (Piaget, 1951).

2.         Secara lebih umum dalam term psikologi, Joan Freeman dalam Utami Munandar (1996) mendefinisikan bermain sebagai suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.

3.         Bermain menurut pendapat Elizabeth Hurlock (1987:320) adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

 4.         Menurut Hughes (1999), seorang ahli perkembangan anak dalam bukunya Children, Play, and Development, mengatakan bermain merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja. Suatu kegiatan yang disebut bermain harus ada lima unsur didalamnya, yaitu:

 a.       Mempunyai tujuan yaitu permainan itu sendiri untuk mendapat kepuasan .

 b.      Memilih dengan bebas dan tas kehendak sendiri, tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa.

 c.       Menyenangkan dan dapat menikmati.

 d.      Mengkhayal untuk mengembangkan daya imaginatif dan kreativitas

e.       Melakukan secara aktif dan sadar (DWP, 2005).

5.         Friedrich Froebel (1782- 1852) menjelaskan bahwa konsep bermain merupakan proses belajar bagi anak usia dini. Anak diajak bekerja di kebun, bermain dengan pimpinan, bernyanyi, pekerjaan tangan atau keterampilan, bersosialisasi, berfantasi, adalah merupakan proses belajar sambil bekerja.

6.         Menurut Karl Buhler dan Schenk Danziger, bermain adalah ”kegiatan yang menimbulkan kenikmatan”. Dan kenikmatan itu menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya.

7.         Andang Ismail (2009: 26) menuturkan bahwa permainan ada dua pengertian. Pertama, permainan adalah sebuah aktifitas bermain yang murni mencari kesenangan tanpa mencari menang atau kalah. Kedua, permainan diartikan sebagai aktifitas bermain yang dilakukan dalam rangka mencari kesenangan dan kepuasan, namun ditandai pencarian menang-kalah.

8.         Menurut Kimpraswil (dalam As’adi Muhammad, 2009: 26) mengatakan bahwa definisi bermain adalah usaha olah diri (olah pikiran dan olah fisik) yang sangat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja, dan prestasi dalam melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi dengan lebih baik.

9.         Menurut Hans Daeng dalam Andang Ismail (2009: 17) bermain adalah bagian mutlak dari kehidupan anak dan permainan merupakan bagian integral dari proses pembentukan kepribadian anak.

 10.     Bermain menurut Mulyadi (2004), secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang dilakukan secara spontan. Terdapat lima pengertian bermain:

 a.       Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak

 b.      Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik

 c.       Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak

 d.      Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak

 e.       Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial dan sebagainya

 Berdasarkan beberapa pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan keseluruhan aktivitas yang dilakukan oleh individu yang sifatnya menyenangkan, yang berfungsi untuk membantu individu mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.

 Tahapan memahami sesuatu pada anak menurut Bruner ada tiga tahap, yaitu:

 a.  Tahap Enaktif. Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik)objek.

 b. Tahap Ikonik. Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.Penyajian pada tahap ini  dapat diberikan gambar-gambar atau ikon-ikon tertentu

 cTahap Simbolis Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi Simbol-simbol atau lambang-lambang objek tertentu.

 C.      Bagaimana Anak TK Dan SD Belajar Bahasa Dan Implementasinya?

 Kiparsky dan Tarigan (1988) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua hingga dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan.

 Prinsip-prinsip dalam pemerolehan bahasa pada anak:

 1.      Berlangsung dalam situasi informal, anak-anak belajar tanpa beban dan berlangsung di luar sekolah.

 2.      Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus.

 3.      Dilakukan tanpa sadar atau secara spontan.

 4.      Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak.

 Ada beberapa Teori tentang pemerolehan bahasa anak, yaitu;

 1.      Teori Behaviorisme

 Teori behaviorisme menyoroti perilaku kebahasaan yang dapat diamati langsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (respon). Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan.  Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebut dibenarkan. Dengan demikian, anak belajar bahasa pertamanya.

 Sebagai contoh, seorang anak mengucap bilangkali untuk barangkali pasti si anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut. Apabila suatu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidak akan mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi seperti inilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan dan merupakan hal pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.

 B.F. Skinner adalah tokoh behaviorisme. Dia menulis buku Verbal Behavior (1957) yang digunakan sebagai rujukan bagi pengikut aliran ini. Menurut aliran ini, belajar merupakan hasil faktor eksternal yang dikenakan pada suatu organisme. Menurut Skinner, perilaku kebahasaan sama dengan perilaku yang lain, dikontrol oleh konsekuensinya. Apabila suatu  usaha menyenangkan perilaku itu akan terus dikerjakan. Sebaliknya, apabila tidak menguntungkan, perilaku itu akan ditinggalkan.

  2.      Teori Nativisme

 Chomsky merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanya dapat dikusai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama, perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal), dan lingkungan memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa. Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.

 Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui “peniruan”. Nativisme juga dipercaya bahwa setiap manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD).

 Tanpa LAD, tidak mungkin seorang anak dapat menguasai bahasa dalam waktu singkat dan bisa menguasai sistem bahasa yang rumit. LAD juga memungkinkan seorang anak dapat membedakan bunyi bahasa dan bukan bunyi bahasa.

 3.      Teori Kognitivisme

 Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954) yang mengatakan bahwa bahasa itu salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Jadi perkembangan bahasa itu ditentukan oleh urutan-urutan perkembangan kognitif.

 Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa distrukturisi oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223). Hal ini tentu saja berbeda dengan pendapat Chomsky yang menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang kompleks, abstrak, dan khas. Begitu juga dengan lingkungan berbahasa. Bahasa harus diperoleh secara alamiah.

 Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Dari lahir sampai 18 bulan, bahasa dianggap belum ada. Anak hanya memahami dunia melalui inderanya. Anak hanya mengenal benda yang dilihat secara langsung. Pada akhir usia satu tahun, anak sudah dapat mengerti bahwa benda memiliki sifat permanen sehingga anak mulai menggunakan symbol untuk mempresentasikan benda yang tidak hadir dihadapannya. Simbol ini kemudian berkembang menjadi kata-kata awal yang diucapkan anak.

 4.      Teori Interaksionisme

 Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkungan bahasa. Pemerolehan bahasa itu berhubungan dengan adanya interaksi antara “input” dan kemampuan internal yang dimiliki pembelajaran.

 Setiap anak sudah memiliki LAD sejak lahir. Hal ini dibuktikan oleh berbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner.  Dia mengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salah satu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa (Campbel, dkk. 2006:2-3). Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan juga faktor yang mempengaruhi kemampuan berbahasa si anak.

 D.      Apa Yang Dapat Kita Lakukan Untuk Memfasilitasi Pembelajaran Bahasa Anak?

 Secara umum, bukan hanya dalam pembelajaran bahasa, ada prinsip-prinsip belajar anak yang perlu diperhatikan terutama oleh pendidik yaitu:

 1.      Perhatian dan Motivasi

 Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar. Hal ini mengandung pengertian bahwa perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakan dan mengarahkan aktivitas seseorang.

 2.      Keaktifan

 Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri.

 3.      Keterlibatan Langsung/Berpengalaman

 Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.

 4.      Pengulangan

 Teori Psikologi Daya menerangkan bahwa belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggapi, mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.

 5.      Tantangan

 Agar pada anak timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan prinsip-prinsip, generalisai tersebut

 6.      Balikan dan Penguatan

 Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar apa salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah segera di berikan penguatan (reinforcement)

 7.      Perbedaan individual

 Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhatiakan oleh guru dalam upaya pembelajaran.

 Secara khusus, untuk memaksimalkan dan menumbuhsuburkan literasi pada anak menurut Bachrudin Musthafa (2014) adalah sebagai berikut:

 1.      Sediakan beragam artefak literasi untuk anak

Sediakan berbagai artefak literasi seperti Koran,buku anak, pensil, dan semacamnya disekitar anak dan artefak-artefak itu harus dapat di akses oleh anak, hal ini akan dapat menumbuhkembangkan kesadaran awal tentang bacaan dan memaksimalkan eksplorasi dan pemahaman mereka tentang bahasa. Sebagaimana teori Montessori yang menyatakan bahwa otak anak seperti spon (absorbent mind) dia akan menyerap apa yang tersedia dilingkungannya.

2.      Demonstrasikan beragam kegiatan literasi dan libatkan anak untuk mengalaminya.

Perkembangan literasi dini tidak begitu saja terjadi, anak harus diberikan waktu mengobservasi dan berpartisipasi dalam beragam aktivitas literasi dengan orang disekitarnya yang mendemonstrasikan kegiatan literasi.

3.      Demonstrasikan beragam peristiwa literasi dan libatkan anak-anak dalam peristiwa tersebut.

Setelah mereka terlibat dalam kegiatan literasi, maka sikap positif mereka akan literasi akan semakin muncul, dan diperkuat ketika mereka melihat orang yang lain juga membaca dan menulis serta berbicara tentang apa yang mereka baca dan tulis.

4.      Demonstrasikan interaksi literasi dan libatkan anak-anak didalamnya.

Lakukan diskusi tentang apa yang mereka lihat, lakukan, dan alami termasuk berbagai buku yang mereka baca, music yang mereka dengar, atau film yang mereka lihat. Kegitan ini akan sangat membantu dalam memaksimalkan perkembangan perolehan literasi mereka.


 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Arifuddin, (2010), Neuropsikolinguistik, Jakarta: rajawali Press.

Anita Yus, (2011), Model Pendidikan Anak Usia dini,Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Bachrudin Musthafa, (2014), Literasi Dini dan Literasi Remaja: Teori, Konsep, dan Praktik, Bandung: CREST.

Lisnawaty Simanjutak, dkk., (1993), Metode Mengajar Matematika, Jakarta: PT Rineka Cipta.

Martini Jamaris. (2006). Perkembangan dan pengembangan anak usia taman kanak-kanak. Jakarta: Grasindo

 Rita kurnia. (2009). Metodologi pengembangan bahasa anak usia dini. Pekanbaru: Cendikia insani..

 Masnipal, (2013)Siap Menjadi Guru dan Pengelola PAUD Profesional.Jakarta: Elex Media Komputindo.

 Mulyati, (2005), Psikologi Belajar, Yogyakarta: C.V. Andi Offset.

 Nasution, M.A., (2000), Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.

 Nasution, S., (2000),Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara.

 Siti Aisyah et.al., (2011) Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan  Anak Usia Dini Jakart: UniversitasTerbuka .

 Soegeng Santoso, (2011) Konsep Pendidikan Anak Usia Dini Menurut Pendirinya,Jakarta: Grasindo.

 Syah, Muhibbin, (2006), Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 Wilson. (2009). Konsep dasar pendidikan  anak usia dini. FKIP UNRI. Pekanbaru.

 Wasty Soemanto,(1998), Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta.

 
 

 

 

 

 

HUBUNGI KAMI

Program Studi Pendidikan Guru PAUD-S1

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

Purwokerto 53182

Kembaran, Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 63424

Fax  : (0281) 637239